Thursday, April 26, 2007

Banjir Air, Banjir Cinta

Banjir bulan Februari lalu meninggalkan kesan yang mendalam buat aku. Bukan karena aku atau keluarga ada yang mengalami kebanjiran. Tapi aku diberikan kesempatan melihat sisi lain dari teman-teman dan orang-orang di sekitarku. Kebaikan hati dan kepedulian terhadap kesusahan orang lain.

Hari itu, awal bulan Februari, hampir semua saluran tv memberitakan bagaimana malam sebelumnya air menyerbu Jakarta. Di mana-mana air tergenang tinggi. Wajah-wajah orang-orang yang kesusahan, anak-anak kedinginan, menunggu pasokan makanan. Sedih dan cemas dibarengi kesal dan gemas, "gimana sih pemerintah! dari dulu begini aja kejadiannya!!".

Singkat kata semua perasaan campur aduk itu akhirnya mendorong aku mengkoordinir dapur umum di rumah. Awalnya sih masih amatiran, biaya sendiri, dan dikerjakan oleh sumber daya manusia yang ada di rumah saja. Namun begitu berita ini sampai ketemanku, Nini, luar biasa, berita ini bergulir ke banyak teman-teman lain, sampai kami akhirnya dapat membiayai pasokan makanan untuk 300 orang perhari, selama seminggu.... Subhanallah, Alhamdulillah, lihat wajah-wajah bahagia mereka menerima bantuan:




Thursday, January 18, 2007

Reaching out the subconscious, reaching out the child within you: How touching the heart of others helps me survive

What have kept me away from being happy? Why everything went wrong with my life? The same question came repeatedly in my mind during the last 4 years. The question that finally led me to the basic question: what is it in my heart, what is it in my subconscious mind?

It all started when I found out that I lost grip of my own life. I used to see myself as an effective woman. I managed my life between work and home. I managed my role as a mother, a daughter, a big sister, member of many social groups, member of organization where I work. I could handle office matters as good as family matters. I see myself, other people and events as variables supporting a systematic life, with a predictable movement. I was a sharp, direct, impatient person. I reasoned everything that had happened in my life as a logical action-consequence relationship. I might exaggerate that facts a bit, but all I want to say is that it was all history, it was all fake.

When I found out that my baby boy is hearing impaired, I managed to stay efficient, and systematically arranged a program for him. I announced calmly to friends that I have such a problem. My mother supported me and spent her time to take care of my son when I was at the office. But suddenly I lost my mother. She died in a car crash in a trip home after taking my son to a therapist in Bogor. Everybody in the car, my son, the nanny and the driver survived. But she wasn’t. She died when helping me taking care of my son. She died because of me! I started to feel sick every day, every time I woke up in the morning. I reluctantly came to the office everyday. Everything was suddenly slipped off my grip. I couldn’t focus on my work. My relationship with others became more difficult.

The sudden death of my mother also brought me a new paradigm. I saw a lot of people moaning for her death. Are they going to miss me when I die? How they will remember me? I was just an office worker, contributing to a, what so called, corporate goal. Was the goal real? All that we cared about was how much salary raises and bonuses we could get. I started to hate my job, the very unimportant work that kept me away from being a good mother and human being.

At that very fragile stage, a friend gave me an interesting book by Brian Weiss MD on his experience in treating his patients’ trauma by regressing them to the past. I am a Muslim, and some ideas on the book were beyond my comprehension. But one thing stuck on my mind; the question of what is the purpose of our life. What is the purpose of MY life? I believed that God has His own plan. At that very moment, the company where I work stopped operating and gave an adequate amount of allowances for me to stay at home for a year. I had a luxurious opportunity to have more time for myself. So the journey to find my true self has begun.

I attended a hypnotherapy session. But I didn’t feel that it was effective. I was too scared to give up myself under the control of the therapist. I then spent most of my time by voluntarily working for a hearing impaired children foundation. My goal was simple: I felt that I have wasted my life so I wanted to be useful for others. At that time I had found what I considered the best solution for handling my hearing impaired son. It was a blessing, and I wanted to share it with others. I met new people, different people with variety of problem. I then realized that I was nothing. My problem was nothing. The corporate life I have adored so much in my life was nothing. A lot of great people do a lot of real work, influencing the life of others, and in most cases, the life of the unfortunate. I had a circle of close friends with a similar vision of helping other parents, and other hearing impaired children to overcome their limitation. My involvement in the foundation seemed the best therapy to heal myself. I touched my heart when touching others’. I grieved with other parents. I was being myself. I cried whenever I wanted to cry. I let the child within me took over myself, and my logic. I surrendered. La haula wa laa quwwata illa billah.

When I felt ready to move on, I found myself not knowing where to go. I have a job with a manageable time. I was not interested to join a fast-paced corporate life and neglecting the very basic needs of my self-fulfillment. I decided to take a graduate study. The decision that seems the best decision I made in the last couple of years. I was so surprised when I find out that beside the ‘regular’ subjects, I have the opportunity of learning how to manage my inner self in one of the subject in the 2nd term. What a luxury! I learned how to meditate, accessing my subconscious mind. I used to feel that it was difficult to stay focus, leaving the world behind, going inside our mind. I was easily distracted by anything. But when I followed the instruction from the teacher, Mark Vranken, I could reach the alpha state, the state where my critical mind is turned off. I made my affirmation successfully at the very first time.

Regularly now, I sit silently at my room. The process is simple, I will take a few deep breaths, feeling relax. Scanning my body, and feeling myself flying out of my body. I will make affirmation, recall emotional anchor and make affirmation again repeatedly. I also learned to release negative emotions. I am a happy human being. I enjoy the classes. I enjoy being at the office. I am not sure what makes me happy. Is it the idea of mastering the skills of self management that will open so many opportunities ahead, or is it because one of my affirmation statement was I am a very happy human being? Subhanallah…

Thursday, November 23, 2006

Aku bersyukur padaMu ya Allah setiap kudengar ia memanggilku..

Ibu.. ibu.. lihat. Ibu..ibu.. ini... Ibu..ibu..itu.. Duh.. tak habis-habis ocehannya. Kuletakkan koran yang kubaca. Aku tahu, dia hanya minta perhatianku. Sambil memandanginya bermain dan sekali-sekali menanggapi ocehannya, pikiranku melayang ke tiga tahun yang lalu.

---000----

Lorong itu berdinding metal, berwarna abu-abu. Dingin. Kuseret langkahku mencari ujungnya. Dimana pintu keluar? Ditepi lorong itu terdapat beberapa pintu. Mungkin pintu kamar. Kamar yang sama dengan yang baru saja kutinggalkan. Aku menggigil. Hatiku hancur mengingat bagaimana anakku terkulai dipangkuanku, setelah anesthesi yang disuntikkan ke tangannya bekerja. Hatiku hancur mengingat aku menyerahkan dirinya, sendirian, ke tangan para dokter di kamar operasi. Kamar yang baru saja kutinggalkan.

Tiga bulan berjuang untuk membawanya ke rumah sakit ini. Tiga bulan berjuang meyakinkan semua orang bahwa ini adalah pilihan terbaik. Dan di detik-detik terakhir, aku nyaris membawanya pergi. Aku nyaris membawanya pergi keluar dari kamar operasi itu. Masih kuingat bagaimana dokter yang menangani anakku dengan sabar menghadapi ketakutanku, dan kemudian mengarahkan aku untuk meninggalkan kamar itu. Duh... Ia masih begitu muda, lemah terkulai.

Tapi ini pilihan terbaik bukan? Kucoba mengingat-ingat apa yang terjadi selama dua tahun ini. Pemeriksaan, terapi, observasi. Aku nyaris tidak sempat memikirkan hal lain. Seluruh waktuku kugunakan untuk mencari informasi, dan membawanya dari satu RS ke RS lain, satu dr ke dr lainnya. Kata mama, dia tidak mendengar. Dia dengar Ma, begitu selalu jawabku. Tapi perhatiannya sedang fokus ke hal lain, selalu begitu tambahku. Dan mama selalu diam, mengatupkan mulutnya, dan membuang pandangannya. Ia tak pernah bisa berbohong. Jangankan berbohong, berbasa-basipun ia tak bisa. Dan dalam hatiku yang terdalam aku curiga ia benar.

Dokter itu mendiagnosa anakku menderita Profound hearing impairment. Setelah mengunjungi lima dokter, menjalani berbagai pemeriksaan, dan mengunjungi pengobatan alternatif; Setelah berkelana dari satu situs ke situs yang lain, membaca puluhan artikel, menganalisa symptom, berkorespondensi dengan RS besar di luar negeri melalui email; Dokter itu, dan dokter lain setelah dia, menguatkan kecurigaan mama. Aku menangis di RS itu. Aku juga menangis saat mama meninggal.

Mama meninggal setelah menyatakan keberatannya bahwa anakku harus masuk ke SLB. Ia meninggal dalam euphoria menemukan alternatif terbaik untuk anakku. Tiga hari sebelumnya, ia berdiskusi intens dengan salah satu orangtua yang memiliki anak dengan kondisi yang sama dengan anakku, yang percaya bahwa operasi adalah jalan terbaik. Saat itu, ia menungguku menyelesaikan administrasi di RS, setelah, sekali lagi, aku membawa anakku untuk diperiksa di RS itu. Mama yang yakin bahwa implantasi kokhlea (Cochclear Implant) adalah solusi, kemudian menceritakan hal itu kepadaku dengan berbinar-binar. Lucu. Mungkin aku membutuhkan kenaifan seperti itu, agar cepat mengambil keputusan. Mungkin aku harus mematikan komputerku, dan menghentikan risetku tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki setiap alternatif. Lucu, karena setelah menghabiskan sekian banyak waktu, kesimpulanku sama dengan Mama yang hanya mengandalkan intuisi dan hatinya. Dan tiga hari kemudian Mama meninggal. Dan aku sendiri.

Aku tak bisa berduka. Aku harus mengejar waktu. Anakku bertambah besar. Aku tak bisa merubah apa yang telah terjadi. Aku mengatur rencana, apa yang harus kulakukan, langkah apa lagi yang harus kuambil, untuk anakku. Aku bersiap, aku meyakinkan semua, inilah pilihan terbaik. Dan beberapa saat yang lalu, aku hampir membatalkan rencana ini. Aku berdebat dengan sang profesor, di depan timnya yang telah siap di depan meja operasi. Aku ketakutan. Ketakutan yang tak pernah sempat kurasakan, seperti perasaan-perasaan lain yang tak pernah sempat kutengok. Aku terlalu sibuk. Tapi kini aku takut. Bagaimana bila keputusanku salah? Bagaimana bila dokter melakukan kesalahan. Bagaimana bila anakku alergi obat anesthesi? Bagaimana..?

"He'll be okay. He'll be alright. Just wait outside, we'll call you shortly." Kata Prof. Low, sambil setengah mendorongku keluar dari ruangan itu. Dan aku termangu di sini, di lorong abu-abu yang dingin ini. Aku tahu aku hanya bisa meminta kepadaMu. Aku hanya bisa memasrahkan diri kepadaMu ya Allah.

---000---

"Ibu..., ibu..". "Ibu..Ibu.. sini" setengah memaksa dia memanggilku yang sedang tenggelam dengan pikiranku. Ya. Saat ini, hari ini, aku merasakan kasihMu, berkahMu. Aku bersyukur padaMu ya Allah setiap kudengar ia memanggilku. Setiap saat kudengar ia bercerita. Masih banyak yang harus diperbaiki. Namun aku percaya ia bisa. Perjalanan kami masih panjang. Hidup kami di depan masih akan menghadapi banyak ujian. Namun aku ikhlas. Karena aku percaya bahwa Kau selalu ada, membimbing dan melindungi kami.

---000---

Tuesday, November 21, 2006

Father & Son Bonding..(2)



Buatku sebagai ibu, mendidik anak bukan perkara ringan, bagaimana mencontohkan kebaikan, bila kitapun tak konsisten dalam kebaikan. Sebelum sampai ke hal besar seperti itupun ada pertanyaan yang lebih sederhana, yang juga butuh jawaban; bagaimana mencontohkan pada anak lelaki sikap seorang lelaki menghadapi segala hal dalam hidup dan keseharian hidup, bila kita bukan lelaki..

Semua akan berkata kepada ayahlah kita mengharapkan jawaban. Kemudian kita akan sampai pada issue yang lain. Tentang waktu yang terbatas, tentang waktu yang langka.. Sebelum terpancing bicara panjang tentang quality time, mari kita nikmati saja foto-foto ini. Siluet dua lelaki tercinta, dengan latar belakang matahari tenggelam di pantai kuta.. Indah...dan indah....





Father & Son Bonding...(1)



Iklan di samping menggambarkan seorang lelaki tua dan seorang lelaki yang lebih muda masing-masing di atas motornya, dengan tulisan "because father and son bonding need not take place at home". Sebuah iklan dengan gagasan indah. Kami langsung jatuh cinta pada iklan itu, karena kami tahu 'father and son bonding' indah secara gagasan, namun butuh kerja keras untuk direalisasikan.

Friday, September 29, 2006

Hari itu hatiku patah tiga


Hari itu hatiku patah tiga. Dan walaupun tiga tahun lebih sudah berlalu, masih terasa perih di patahannya bila aku mengingat hari itu. Hari senin itu diawali dengan pagi yang sedikit berbeda dari biasanya. Supir yang biasa mengantar aku dan anakku, sejak sabtu sebelumnya telah mengundurkan diri, untuk berwiraswasta. Padahal senin pagi, anakku, akan ke bogor, diantar mama, untuk berobat. Kegiatan rutin dua kali seminggu ini, sudah dijalani anakku, yang pada saat itu berusia dua tahun, selama setahun lebih. Suamiku kemudian menugaskan supirnya untuk mengantarkan anak dan mamaku ke Bogor.

Hari yang biasa di kantor, sebosan biasanya. Sepanjang pagi itu aku sudah 2 kali menelpon mama. “Antriannya tidak panjang”, kata mama. “Kami bisa cepat sampai di Jakarta lagi” jawaban mama, saat aku bertanya ditelpon. Jam 11.30, aku menelepon mama lagi. Mereka sudah dalam perjalanan pulang, dan memasuki pintu tol jagorawi bogor. Aku senang mendengarnya. Mama dan anakku bisa pulang dan istirahat. Aku bersiap-siap untuk turut makan siang diluar kantor bersama beberapa teman.

Saat di tempat makan dan menunggu pesanan makanan, entah mengapa aku mendapat dorongan untuk kembali menelepon mama. Padahal belum sampai setengah jam yang lalu aku bicara dengannya. Aku mulai menekan keyboard di hpku. Terdengar nada sambung, tapi tidak diangkat. Mungkin sudah sampai di rumah, batinku, karena bila lancar, dari tol bogor ke rumah mama di kawasan lebak bulus hanya makan waktu singkat. Tapi ternyata mama belum sampai di rumah. Aku mulai merasa tidak enak. Penasaran dan cemas, aku coba berkali-kali menelpon ke hp mama, tidak berhasil. Tiba-tiba pada kesekian kalinya aku menelepon, telepon di terima. “Halo..” Suara pria? Aku heran. “lho? Ini siapa?” kataku. “Ini kantor polisi bu, ini siapa?”. Aku terkejut bukan kepalang, rasa panik mulai menjalari seluruh badanku. “Pak, ada apa?” Pria yang mengaku polisi itu bertanya: “ Ibu kenal dengan pemilik hp ini”. Dengan terengah tidak sabar aku menjawab “Itu ibu saya pak, ada apa”. Hening sesaat, aku menggigil. Pria itu kemudian berkata “Ada kecelakaan Bu, ibu ke sini saja” kemudian dia menyebutkan alamat polseknya.

Panik, aku mencoba menelepon suamiku. Berkali-kali, tidak tersambung. Rupanya pada saat yang sama dia sedang berusaha menghubungi aku. Ketika akhirnya aku berhasil menelepon, dia sudah berangkat menuju RS PMI Bogor, karena mengejar waktu. Menurut suamiku, aku akan dijemput oleh salah seorang kerabatnya. Aku bingung, panik dan tidak memiliki informasi yang jelas. Kecelakaan dimana, bagaimana? Bagaimana anakku? Bagaimana mama? Aku menggigil, tak tahu harus bagaimana. Saat itu aku baru sadar bahwa teman-temanku sedang menatapku dengan bingung. Aku tergagap menjelaskan situasi yang saat itu bagikupun belum jelas. Untunglah kemudian salah seorang teman langsung mengambil keputusan bahwa sebagian dari mereka akan mengantar aku ke sana, sehingga aku dapat langsung menuju Bogor tanpa harus menunggu jemputan.

Tak bisa kugambarkan perasaanku sepanjang perjalanan ke Bogor. Ketakutan, cemas, berkali-kali menelepon tanpa mendapat informasi yang berarti. Kami sampai di Bogor dalam waktu hanya setengah jam. Memasuki halaman RS PMI, kaki dan tanganku terasa dingin. Dengan tergopoh-gopoh aku turun dan menuju ke bagian emergency.

Aku tidak pernah lupa suasana saat itu. Berdiri di ruang emergency, suamiku dengan anakku didekapannya. Ekspresinya tidak terbaca. Hanya terlihat dia mengeratkan dekapannya ke anakku pada saat melihat aku tiba. Aku juga tidak bisa melupakan wajah anakku yang tampak termangu. Subhanallah. Subhanallah. Aku menjerit. Anakku tidak apa-apa. “Mama mana?”, “Mama bagaimana?” Suamiku diam menatapku. Aku tidak mengerti. Dia berbisik:”Mama sudah tidak ada”. Aku bingung, dan mengulang pertanyaanku. “Sudah tidak ada” suaranya yang pelan seperti memukul kepalaku. Inna lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Aku menjerit tidak percaya. Aku memaksa melihat mama. Aku berputar-putar di ruang itu. Aku mencari mama. Aku bingung. Aku tanya kakakku. Dia hanya diam memeluk diriku. Aku menangis. Aku menggugat. Aku berteriak. Aku menyesal. Orang-orang berdatangan.
---000---
Kami kemudian meninggalkan RS PMI Bogor menuju RS di Jakarta. Anakku dan susternya harus menjalani observasi di sana, untuk mengetahui lebih lanjut apakah ada luka dalam dari kecelakaan itu. Kakakku tinggal di Bogor untuk mengurus jenazah mama.

Hari itu, senin 9 juni 2003, hatiku patah tiga. Satu untuk mama yang pergi tiba-tiba, dan jenazahnya yang tak pernah boleh kulihat. Satu untuk setiap ketidak hadiranku di sisi anakku saat ia membutuhkanku. Dan satu untuk hidup kami yang tak pernah sama lagi.
---000---

Untuk kakakku yang menanggung dan menghadapi sendiri apa yang terjadi pada jenazah mama, serta Oom Leo yang membantu menyelesaikan semuanya.
Untuk adik-adikku, temanku menangis, agar selalu ingat untuk mendoakan papa dan mama

Tuesday, September 26, 2006

Makan AW Fried Chicken di Banda Aceh

Makan AW Fried Chicken? Apa istimewanya? Mungkin itu pertanyaan yang terlintas di benak setiap teman yang membaca judul di atas. Apalagi tempat makannya di Banda Aceh, daerah yang terkenal dengan masakan berbumbu rempah eksotik seperti Mie Aceh, Gule Hiu, Kari Kambing, dan banyak makanan enak lainnya. Memang tidak ada yang istimewa, Fried chicken AW, salah satu makanan cepat saji import yang sudah memasuki Banda Aceh ini tidak berbeda dengan fried chicken yang sama di Jakarta. Namun bagi saya yang sehari-hari, di rumah, mengkonsumsi produk organic serta berangkat ke kantor berbekal nasi beras merah, pengalaman menikmati makanan tersebut menyisakan penyesalan yang setara dengan melakukan perselingkuhan! Sedikit berbuat nakal, atau flirting, dengan junk food eksotik seperti makanan-makanan lokal yang saya sebutkan di atas, masih bisa dimaafkan. Walaupun kemudian saya harus menebusnya dengan meminum jus sayur mentah bergelas-gelas di rumah.

Sayangnya, semalam saya tidak punya pilihan lain. Sebenarnya hampir semua rekan saya di Banda Aceh sudah mengingatkan bahwa pada jam buka puasa, sampai saat orang-orang selesai melaksanakan shalat tarawih, sebagian besar rumah makan, warung makan ataupun warung kopi, tutup. Setelah shalat tarawih, rumah2 makan itu akan buka sampai saat sahur keesokan paginya. Namun, dengan asumsi bahwa sebagian besar bukan berarti semua, saya masih menyimpan harapan bahwa saya akan menemukan tempat makan yang ‘layak’ untuk makan malam setelah berbuka. Sehingga saya mengabaikan ide untuk membeli bekal makanan sebelum berbuka dan menikmatinya di guest house.

Setelah puasa, yang diawali dengan hanya minum segelas jus dan menyantap buah potong untuk sahur, perut rasanya tidak bisa kompromi untuk menunggu lebih lama untuk diasup makanan. Maka malam itu, berkelilinglah saya ditemani dengan 3 orang teman, untuk mencari makan. Pertama kami menuju kafe apung di daerah Ulee Kareng. Di sana ada beberapa kafe dengan desain rumah panggung. Satu persatu kami telusuri, namun kafe-kafe di sepanjang jalan tersebut terlihat gelap, dan sepi. Kemudian kami menuju daerah Lamnyong. Menurut teman saya, di sana ada rumah makan Lamnyong yang menyediakan banyak pilihan. Hmm janji indah bagi yang baru berbuka puasa. Namun sayangnya, kami sampai di sana hanya untuk menemukan bahwa rumah makan itu tutup juga!

Kami mengamati di sepanjang jalan di Banda dan menemukan bahwa tidak satupun rumah2 makan yang terlihat buka dan siap melayani pelanggan. Saat perut berkecamuk itulah, saya mulai memikirkan dugaan yang dilontarkan salah satu teman kami, bahwa rumah makan yang pasti buka adalah KFC dan AW. Okelah kalau memang hanya dua rumah makan itu yang buka, apa boleh buat, demikian saya katakan kepada teman-teman. Jadi meluncurlah mobil kami, dengan tujuan yang lebih fokus yaitu menemukan KFC atau AW. Kami melewati jalan Simpang Lima, di sana ada restaurant KFC. Tapi kok gelap? Kemudian kami melewati Simpang Mesra, dan menemukan restaurant KFC lain yang juga tutup.

Kemudian supir kami mengarahkan mobil menuju Peunayong. Ada satu KFC lagi di sana, yang ternyata tutup juga. Wah gawat, saya membatin. Akhirnya setelah berputar-putar, dengan perut semakin lapar, dan harapan menemukan makanan semakin tipis, tampak di depan kami sebuah rumah makan dengan logo AW yang tampak terang dan cukup ramai dikunjungi tamu. Akhirnya. Berhentilah kami di sana. Tanpa basa basi, terjadilah, apa yang harus terjadi. Tiga potong ayam goreng AW setengah hangus, yang berkadar lemak tinggi, berkadar garam tinggi, dan entah mengandung apa lagi, masuk ke perut saya.
Malam itu, tergeletak di ranjang saya di Guest House, saya terbenam dalam rasa bersalah.

Tuesday, September 12, 2006

dan katanya hidup mulai pada usia 40 th..

Siapa bilang perempuan suka menyembunyikan usianya? Sebagian besar perempuan di sekitar diriku gladly announced their real numbers, all numbers including body weight... (bener nggak Ina Fattah? hehehe).

Apa ya yang berbeda antara umur 30 dan 40.. selain berat badan dan ukuran pinggang? Apakah aku mau menukar hidupku saat ini dengan saat umur 30? When was my happiest moment? Hmm may be at 35, saat Emil baru lahir, belahan jiwaku yang lahir setelah lama bertahan dengan harapan.. dan saat itu, Subhanallah, masih ada papa dan mama.

Am I not happy now? Indeed I am. Barangkali itu yang membedakan ya.. pada saat everything went well and smooth.. I was waiting for a spectacular moment to make me happy. But when I'd been through the saddest and the most difficult times, every little things make me happy. Laughing at Tom and Jerry cartoon show on TV during Emil's trip to school this morning, made me happy... Having breakfast with a colleague.., made me happy. Alhamdulillah.. all the experience in life brings me wisdom, sensitivity and allertnes of my being, and surrounding. Subhanallah.

Boleh dong mejeng sedikit sambil kerja.......


Sampai hari ini aku, sebagai konsultan WB, ditempatkan di kantor BRR NAD-Nias Perwakilan Jakarta. Di kantor yang sebagian besar staffnya berusia separuh usiaku (hehehe sedikit dramatis.), teman-temannya asik-asik.. terutama kalau menyangkut pergera'an pencarian makanan....Foto ini diambil oleh Nini, bagian keuangan di kantor BRR tsb. Lumayanlah hasilnya, mengingat beliau adalah fotografer amatir...

Love of My Life

Ah.. bukan kejutan, siapa lagi kalau bukan Muhammad Emil Hafizh Reksodirdjo. The happy pirate..