Ibu.. ibu.. lihat. Ibu..ibu.. ini... Ibu..ibu..itu.. Duh.. tak habis-habis ocehannya. Kuletakkan koran yang kubaca. Aku tahu, dia hanya minta perhatianku. Sambil memandanginya bermain dan sekali-sekali menanggapi ocehannya, pikiranku melayang ke tiga tahun yang lalu.
---000----
Lorong itu berdinding metal, berwarna abu-abu. Dingin. Kuseret langkahku mencari ujungnya. Dimana pintu keluar? Ditepi lorong itu terdapat beberapa pintu. Mungkin pintu kamar. Kamar yang sama dengan yang baru saja kutinggalkan. Aku menggigil. Hatiku hancur mengingat bagaimana anakku terkulai dipangkuanku, setelah anesthesi yang disuntikkan ke tangannya bekerja. Hatiku hancur mengingat aku menyerahkan dirinya, sendirian, ke tangan para dokter di kamar operasi. Kamar yang baru saja kutinggalkan.
Tiga bulan berjuang untuk membawanya ke rumah sakit ini. Tiga bulan berjuang meyakinkan semua orang bahwa ini adalah pilihan terbaik. Dan di detik-detik terakhir, aku nyaris membawanya pergi. Aku nyaris membawanya pergi keluar dari kamar operasi itu. Masih kuingat bagaimana dokter yang menangani anakku dengan sabar menghadapi ketakutanku, dan kemudian mengarahkan aku untuk meninggalkan kamar itu. Duh... Ia masih begitu muda, lemah terkulai.
Tapi ini pilihan terbaik bukan? Kucoba mengingat-ingat apa yang terjadi selama dua tahun ini. Pemeriksaan, terapi, observasi. Aku nyaris tidak sempat memikirkan hal lain. Seluruh waktuku kugunakan untuk mencari informasi, dan membawanya dari satu RS ke RS lain, satu dr ke dr lainnya. Kata mama, dia tidak mendengar. Dia dengar Ma, begitu selalu jawabku. Tapi perhatiannya sedang fokus ke hal lain, selalu begitu tambahku. Dan mama selalu diam, mengatupkan mulutnya, dan membuang pandangannya. Ia tak pernah bisa berbohong. Jangankan berbohong, berbasa-basipun ia tak bisa. Dan dalam hatiku yang terdalam aku curiga ia benar.
Dokter itu mendiagnosa anakku menderita Profound hearing impairment. Setelah mengunjungi lima dokter, menjalani berbagai pemeriksaan, dan mengunjungi pengobatan alternatif; Setelah berkelana dari satu situs ke situs yang lain, membaca puluhan artikel, menganalisa symptom, berkorespondensi dengan RS besar di luar negeri melalui email; Dokter itu, dan dokter lain setelah dia, menguatkan kecurigaan mama. Aku menangis di RS itu. Aku juga menangis saat mama meninggal.
Mama meninggal setelah menyatakan keberatannya bahwa anakku harus masuk ke SLB. Ia meninggal dalam euphoria menemukan alternatif terbaik untuk anakku. Tiga hari sebelumnya, ia berdiskusi intens dengan salah satu orangtua yang memiliki anak dengan kondisi yang sama dengan anakku, yang percaya bahwa operasi adalah jalan terbaik. Saat itu, ia menungguku menyelesaikan administrasi di RS, setelah, sekali lagi, aku membawa anakku untuk diperiksa di RS itu. Mama yang yakin bahwa implantasi kokhlea (Cochclear Implant) adalah solusi, kemudian menceritakan hal itu kepadaku dengan berbinar-binar. Lucu. Mungkin aku membutuhkan kenaifan seperti itu, agar cepat mengambil keputusan. Mungkin aku harus mematikan komputerku, dan menghentikan risetku tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki setiap alternatif. Lucu, karena setelah menghabiskan sekian banyak waktu, kesimpulanku sama dengan Mama yang hanya mengandalkan intuisi dan hatinya. Dan tiga hari kemudian Mama meninggal. Dan aku sendiri.
Aku tak bisa berduka. Aku harus mengejar waktu. Anakku bertambah besar. Aku tak bisa merubah apa yang telah terjadi. Aku mengatur rencana, apa yang harus kulakukan, langkah apa lagi yang harus kuambil, untuk anakku. Aku bersiap, aku meyakinkan semua, inilah pilihan terbaik. Dan beberapa saat yang lalu, aku hampir membatalkan rencana ini. Aku berdebat dengan sang profesor, di depan timnya yang telah siap di depan meja operasi. Aku ketakutan. Ketakutan yang tak pernah sempat kurasakan, seperti perasaan-perasaan lain yang tak pernah sempat kutengok. Aku terlalu sibuk. Tapi kini aku takut. Bagaimana bila keputusanku salah? Bagaimana bila dokter melakukan kesalahan. Bagaimana bila anakku alergi obat anesthesi? Bagaimana..?
"He'll be okay. He'll be alright. Just wait outside, we'll call you shortly." Kata Prof. Low, sambil setengah mendorongku keluar dari ruangan itu. Dan aku termangu di sini, di lorong abu-abu yang dingin ini. Aku tahu aku hanya bisa meminta kepadaMu. Aku hanya bisa memasrahkan diri kepadaMu ya Allah.
---000---
"Ibu..., ibu..". "Ibu..Ibu.. sini" setengah memaksa dia memanggilku yang sedang tenggelam dengan pikiranku. Ya. Saat ini, hari ini, aku merasakan kasihMu, berkahMu. Aku bersyukur padaMu ya Allah setiap kudengar ia memanggilku. Setiap saat kudengar ia bercerita. Masih banyak yang harus diperbaiki. Namun aku percaya ia bisa. Perjalanan kami masih panjang. Hidup kami di depan masih akan menghadapi banyak ujian. Namun aku ikhlas. Karena aku percaya bahwa Kau selalu ada, membimbing dan melindungi kami.
---000---