Hari itu hatiku patah tiga. Dan walaupun tiga tahun lebih sudah berlalu, masih terasa perih di patahannya bila aku mengingat hari itu. Hari senin itu diawali dengan pagi yang sedikit berbeda dari biasanya. Supir yang biasa mengantar aku dan anakku, sejak sabtu sebelumnya telah mengundurkan diri, untuk berwiraswasta. Padahal senin pagi, anakku, akan ke bogor, diantar mama, untuk berobat. Kegiatan rutin dua kali seminggu ini, sudah dijalani anakku, yang pada saat itu berusia dua tahun, selama setahun lebih. Suamiku kemudian menugaskan supirnya untuk mengantarkan anak dan mamaku ke Bogor.
Hari yang biasa di kantor, sebosan biasanya. Sepanjang pagi itu aku sudah 2 kali menelpon mama. “Antriannya tidak panjang”, kata mama. “Kami bisa cepat sampai di Jakarta lagi” jawaban mama, saat aku bertanya ditelpon. Jam 11.30, aku menelepon mama lagi. Mereka sudah dalam perjalanan pulang, dan memasuki pintu tol jagorawi bogor. Aku senang mendengarnya. Mama dan anakku bisa pulang dan istirahat. Aku bersiap-siap untuk turut makan siang diluar kantor bersama beberapa teman.
Saat di tempat makan dan menunggu pesanan makanan, entah mengapa aku mendapat dorongan untuk kembali menelepon mama. Padahal belum sampai setengah jam yang lalu aku bicara dengannya. Aku mulai menekan keyboard di hpku. Terdengar nada sambung, tapi tidak diangkat. Mungkin sudah sampai di rumah, batinku, karena bila lancar, dari tol bogor ke rumah mama di kawasan lebak bulus hanya makan waktu singkat. Tapi ternyata mama belum sampai di rumah. Aku mulai merasa tidak enak. Penasaran dan cemas, aku coba berkali-kali menelpon ke hp mama, tidak berhasil. Tiba-tiba pada kesekian kalinya aku menelepon, telepon di terima. “Halo..” Suara pria? Aku heran. “lho? Ini siapa?” kataku. “Ini kantor polisi bu, ini siapa?”. Aku terkejut bukan kepalang, rasa panik mulai menjalari seluruh badanku. “Pak, ada apa?” Pria yang mengaku polisi itu bertanya: “ Ibu kenal dengan pemilik hp ini”. Dengan terengah tidak sabar aku menjawab “Itu ibu saya pak, ada apa”. Hening sesaat, aku menggigil. Pria itu kemudian berkata “Ada kecelakaan Bu, ibu ke sini saja” kemudian dia menyebutkan alamat polseknya.
Panik, aku mencoba menelepon suamiku. Berkali-kali, tidak tersambung. Rupanya pada saat yang sama dia sedang berusaha menghubungi aku. Ketika akhirnya aku berhasil menelepon, dia sudah berangkat menuju RS PMI Bogor, karena mengejar waktu. Menurut suamiku, aku akan dijemput oleh salah seorang kerabatnya. Aku bingung, panik dan tidak memiliki informasi yang jelas. Kecelakaan dimana, bagaimana? Bagaimana anakku? Bagaimana mama? Aku menggigil, tak tahu harus bagaimana. Saat itu aku baru sadar bahwa teman-temanku sedang menatapku dengan bingung. Aku tergagap menjelaskan situasi yang saat itu bagikupun belum jelas. Untunglah kemudian salah seorang teman langsung mengambil keputusan bahwa sebagian dari mereka akan mengantar aku ke sana, sehingga aku dapat langsung menuju Bogor tanpa harus menunggu jemputan.
Tak bisa kugambarkan perasaanku sepanjang perjalanan ke Bogor. Ketakutan, cemas, berkali-kali menelepon tanpa mendapat informasi yang berarti. Kami sampai di Bogor dalam waktu hanya setengah jam. Memasuki halaman RS PMI, kaki dan tanganku terasa dingin. Dengan tergopoh-gopoh aku turun dan menuju ke bagian emergency.
Aku tidak pernah lupa suasana saat itu. Berdiri di ruang emergency, suamiku dengan anakku didekapannya. Ekspresinya tidak terbaca. Hanya terlihat dia mengeratkan dekapannya ke anakku pada saat melihat aku tiba. Aku juga tidak bisa melupakan wajah anakku yang tampak termangu. Subhanallah. Subhanallah. Aku menjerit. Anakku tidak apa-apa. “Mama mana?”, “Mama bagaimana?” Suamiku diam menatapku. Aku tidak mengerti. Dia berbisik:”Mama sudah tidak ada”. Aku bingung, dan mengulang pertanyaanku. “Sudah tidak ada” suaranya yang pelan seperti memukul kepalaku. Inna lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Aku menjerit tidak percaya. Aku memaksa melihat mama. Aku berputar-putar di ruang itu. Aku mencari mama. Aku bingung. Aku tanya kakakku. Dia hanya diam memeluk diriku. Aku menangis. Aku menggugat. Aku berteriak. Aku menyesal. Orang-orang berdatangan.
---000---
Kami kemudian meninggalkan RS PMI Bogor menuju RS di Jakarta. Anakku dan susternya harus menjalani observasi di sana, untuk mengetahui lebih lanjut apakah ada luka dalam dari kecelakaan itu. Kakakku tinggal di Bogor untuk mengurus jenazah mama.
Hari itu, senin 9 juni 2003, hatiku patah tiga. Satu untuk mama yang pergi tiba-tiba, dan jenazahnya yang tak pernah boleh kulihat. Satu untuk setiap ketidak hadiranku di sisi anakku saat ia membutuhkanku. Dan satu untuk hidup kami yang tak pernah sama lagi.
---000---
Untuk kakakku yang menanggung dan menghadapi sendiri apa yang terjadi pada jenazah mama, serta Oom Leo yang membantu menyelesaikan semuanya.
Untuk adik-adikku, temanku menangis, agar selalu ingat untuk mendoakan papa dan mama
Friday, September 29, 2006
Hari itu hatiku patah tiga
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
Mbak Ai bikin aku sedih baca tulisan ini. Tapi tulisan ini sangat bagus.
Post a Comment