Makan AW Fried Chicken? Apa istimewanya? Mungkin itu pertanyaan yang terlintas di benak setiap teman yang membaca judul di atas. Apalagi tempat makannya di Banda Aceh, daerah yang terkenal dengan masakan berbumbu rempah eksotik seperti Mie Aceh, Gule Hiu, Kari Kambing, dan banyak makanan enak lainnya. Memang tidak ada yang istimewa, Fried chicken AW, salah satu makanan cepat saji import yang sudah memasuki Banda Aceh ini tidak berbeda dengan fried chicken yang sama di Jakarta. Namun bagi saya yang sehari-hari, di rumah, mengkonsumsi produk organic serta berangkat ke kantor berbekal nasi beras merah, pengalaman menikmati makanan tersebut menyisakan penyesalan yang setara dengan melakukan perselingkuhan! Sedikit berbuat nakal, atau flirting, dengan junk food eksotik seperti makanan-makanan lokal yang saya sebutkan di atas, masih bisa dimaafkan. Walaupun kemudian saya harus menebusnya dengan meminum jus sayur mentah bergelas-gelas di rumah.
Sayangnya, semalam saya tidak punya pilihan lain. Sebenarnya hampir semua rekan saya di Banda Aceh sudah mengingatkan bahwa pada jam buka puasa, sampai saat orang-orang selesai melaksanakan shalat tarawih, sebagian besar rumah makan, warung makan ataupun warung kopi, tutup. Setelah shalat tarawih, rumah2 makan itu akan buka sampai saat sahur keesokan paginya. Namun, dengan asumsi bahwa sebagian besar bukan berarti semua, saya masih menyimpan harapan bahwa saya akan menemukan tempat makan yang ‘layak’ untuk makan malam setelah berbuka. Sehingga saya mengabaikan ide untuk membeli bekal makanan sebelum berbuka dan menikmatinya di guest house.
Setelah puasa, yang diawali dengan hanya minum segelas jus dan menyantap buah potong untuk sahur, perut rasanya tidak bisa kompromi untuk menunggu lebih lama untuk diasup makanan. Maka malam itu, berkelilinglah saya ditemani dengan 3 orang teman, untuk mencari makan. Pertama kami menuju kafe apung di daerah Ulee Kareng. Di sana ada beberapa kafe dengan desain rumah panggung. Satu persatu kami telusuri, namun kafe-kafe di sepanjang jalan tersebut terlihat gelap, dan sepi. Kemudian kami menuju daerah Lamnyong. Menurut teman saya, di sana ada rumah makan Lamnyong yang menyediakan banyak pilihan. Hmm janji indah bagi yang baru berbuka puasa. Namun sayangnya, kami sampai di sana hanya untuk menemukan bahwa rumah makan itu tutup juga!
Kami mengamati di sepanjang jalan di Banda dan menemukan bahwa tidak satupun rumah2 makan yang terlihat buka dan siap melayani pelanggan. Saat perut berkecamuk itulah, saya mulai memikirkan dugaan yang dilontarkan salah satu teman kami, bahwa rumah makan yang pasti buka adalah KFC dan AW. Okelah kalau memang hanya dua rumah makan itu yang buka, apa boleh buat, demikian saya katakan kepada teman-teman. Jadi meluncurlah mobil kami, dengan tujuan yang lebih fokus yaitu menemukan KFC atau AW. Kami melewati jalan Simpang Lima, di sana ada restaurant KFC. Tapi kok gelap? Kemudian kami melewati Simpang Mesra, dan menemukan restaurant KFC lain yang juga tutup.
Kemudian supir kami mengarahkan mobil menuju Peunayong. Ada satu KFC lagi di sana, yang ternyata tutup juga. Wah gawat, saya membatin. Akhirnya setelah berputar-putar, dengan perut semakin lapar, dan harapan menemukan makanan semakin tipis, tampak di depan kami sebuah rumah makan dengan logo AW yang tampak terang dan cukup ramai dikunjungi tamu. Akhirnya. Berhentilah kami di sana. Tanpa basa basi, terjadilah, apa yang harus terjadi. Tiga potong ayam goreng AW setengah hangus, yang berkadar lemak tinggi, berkadar garam tinggi, dan entah mengandung apa lagi, masuk ke perut saya.
Sayangnya, semalam saya tidak punya pilihan lain. Sebenarnya hampir semua rekan saya di Banda Aceh sudah mengingatkan bahwa pada jam buka puasa, sampai saat orang-orang selesai melaksanakan shalat tarawih, sebagian besar rumah makan, warung makan ataupun warung kopi, tutup. Setelah shalat tarawih, rumah2 makan itu akan buka sampai saat sahur keesokan paginya. Namun, dengan asumsi bahwa sebagian besar bukan berarti semua, saya masih menyimpan harapan bahwa saya akan menemukan tempat makan yang ‘layak’ untuk makan malam setelah berbuka. Sehingga saya mengabaikan ide untuk membeli bekal makanan sebelum berbuka dan menikmatinya di guest house.
Setelah puasa, yang diawali dengan hanya minum segelas jus dan menyantap buah potong untuk sahur, perut rasanya tidak bisa kompromi untuk menunggu lebih lama untuk diasup makanan. Maka malam itu, berkelilinglah saya ditemani dengan 3 orang teman, untuk mencari makan. Pertama kami menuju kafe apung di daerah Ulee Kareng. Di sana ada beberapa kafe dengan desain rumah panggung. Satu persatu kami telusuri, namun kafe-kafe di sepanjang jalan tersebut terlihat gelap, dan sepi. Kemudian kami menuju daerah Lamnyong. Menurut teman saya, di sana ada rumah makan Lamnyong yang menyediakan banyak pilihan. Hmm janji indah bagi yang baru berbuka puasa. Namun sayangnya, kami sampai di sana hanya untuk menemukan bahwa rumah makan itu tutup juga!
Kami mengamati di sepanjang jalan di Banda dan menemukan bahwa tidak satupun rumah2 makan yang terlihat buka dan siap melayani pelanggan. Saat perut berkecamuk itulah, saya mulai memikirkan dugaan yang dilontarkan salah satu teman kami, bahwa rumah makan yang pasti buka adalah KFC dan AW. Okelah kalau memang hanya dua rumah makan itu yang buka, apa boleh buat, demikian saya katakan kepada teman-teman. Jadi meluncurlah mobil kami, dengan tujuan yang lebih fokus yaitu menemukan KFC atau AW. Kami melewati jalan Simpang Lima, di sana ada restaurant KFC. Tapi kok gelap? Kemudian kami melewati Simpang Mesra, dan menemukan restaurant KFC lain yang juga tutup.
Kemudian supir kami mengarahkan mobil menuju Peunayong. Ada satu KFC lagi di sana, yang ternyata tutup juga. Wah gawat, saya membatin. Akhirnya setelah berputar-putar, dengan perut semakin lapar, dan harapan menemukan makanan semakin tipis, tampak di depan kami sebuah rumah makan dengan logo AW yang tampak terang dan cukup ramai dikunjungi tamu. Akhirnya. Berhentilah kami di sana. Tanpa basa basi, terjadilah, apa yang harus terjadi. Tiga potong ayam goreng AW setengah hangus, yang berkadar lemak tinggi, berkadar garam tinggi, dan entah mengandung apa lagi, masuk ke perut saya.
Malam itu, tergeletak di ranjang saya di Guest House, saya terbenam dalam rasa bersalah.
No comments:
Post a Comment