Friday, September 29, 2006

Hari itu hatiku patah tiga


Hari itu hatiku patah tiga. Dan walaupun tiga tahun lebih sudah berlalu, masih terasa perih di patahannya bila aku mengingat hari itu. Hari senin itu diawali dengan pagi yang sedikit berbeda dari biasanya. Supir yang biasa mengantar aku dan anakku, sejak sabtu sebelumnya telah mengundurkan diri, untuk berwiraswasta. Padahal senin pagi, anakku, akan ke bogor, diantar mama, untuk berobat. Kegiatan rutin dua kali seminggu ini, sudah dijalani anakku, yang pada saat itu berusia dua tahun, selama setahun lebih. Suamiku kemudian menugaskan supirnya untuk mengantarkan anak dan mamaku ke Bogor.

Hari yang biasa di kantor, sebosan biasanya. Sepanjang pagi itu aku sudah 2 kali menelpon mama. “Antriannya tidak panjang”, kata mama. “Kami bisa cepat sampai di Jakarta lagi” jawaban mama, saat aku bertanya ditelpon. Jam 11.30, aku menelepon mama lagi. Mereka sudah dalam perjalanan pulang, dan memasuki pintu tol jagorawi bogor. Aku senang mendengarnya. Mama dan anakku bisa pulang dan istirahat. Aku bersiap-siap untuk turut makan siang diluar kantor bersama beberapa teman.

Saat di tempat makan dan menunggu pesanan makanan, entah mengapa aku mendapat dorongan untuk kembali menelepon mama. Padahal belum sampai setengah jam yang lalu aku bicara dengannya. Aku mulai menekan keyboard di hpku. Terdengar nada sambung, tapi tidak diangkat. Mungkin sudah sampai di rumah, batinku, karena bila lancar, dari tol bogor ke rumah mama di kawasan lebak bulus hanya makan waktu singkat. Tapi ternyata mama belum sampai di rumah. Aku mulai merasa tidak enak. Penasaran dan cemas, aku coba berkali-kali menelpon ke hp mama, tidak berhasil. Tiba-tiba pada kesekian kalinya aku menelepon, telepon di terima. “Halo..” Suara pria? Aku heran. “lho? Ini siapa?” kataku. “Ini kantor polisi bu, ini siapa?”. Aku terkejut bukan kepalang, rasa panik mulai menjalari seluruh badanku. “Pak, ada apa?” Pria yang mengaku polisi itu bertanya: “ Ibu kenal dengan pemilik hp ini”. Dengan terengah tidak sabar aku menjawab “Itu ibu saya pak, ada apa”. Hening sesaat, aku menggigil. Pria itu kemudian berkata “Ada kecelakaan Bu, ibu ke sini saja” kemudian dia menyebutkan alamat polseknya.

Panik, aku mencoba menelepon suamiku. Berkali-kali, tidak tersambung. Rupanya pada saat yang sama dia sedang berusaha menghubungi aku. Ketika akhirnya aku berhasil menelepon, dia sudah berangkat menuju RS PMI Bogor, karena mengejar waktu. Menurut suamiku, aku akan dijemput oleh salah seorang kerabatnya. Aku bingung, panik dan tidak memiliki informasi yang jelas. Kecelakaan dimana, bagaimana? Bagaimana anakku? Bagaimana mama? Aku menggigil, tak tahu harus bagaimana. Saat itu aku baru sadar bahwa teman-temanku sedang menatapku dengan bingung. Aku tergagap menjelaskan situasi yang saat itu bagikupun belum jelas. Untunglah kemudian salah seorang teman langsung mengambil keputusan bahwa sebagian dari mereka akan mengantar aku ke sana, sehingga aku dapat langsung menuju Bogor tanpa harus menunggu jemputan.

Tak bisa kugambarkan perasaanku sepanjang perjalanan ke Bogor. Ketakutan, cemas, berkali-kali menelepon tanpa mendapat informasi yang berarti. Kami sampai di Bogor dalam waktu hanya setengah jam. Memasuki halaman RS PMI, kaki dan tanganku terasa dingin. Dengan tergopoh-gopoh aku turun dan menuju ke bagian emergency.

Aku tidak pernah lupa suasana saat itu. Berdiri di ruang emergency, suamiku dengan anakku didekapannya. Ekspresinya tidak terbaca. Hanya terlihat dia mengeratkan dekapannya ke anakku pada saat melihat aku tiba. Aku juga tidak bisa melupakan wajah anakku yang tampak termangu. Subhanallah. Subhanallah. Aku menjerit. Anakku tidak apa-apa. “Mama mana?”, “Mama bagaimana?” Suamiku diam menatapku. Aku tidak mengerti. Dia berbisik:”Mama sudah tidak ada”. Aku bingung, dan mengulang pertanyaanku. “Sudah tidak ada” suaranya yang pelan seperti memukul kepalaku. Inna lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun. Aku menjerit tidak percaya. Aku memaksa melihat mama. Aku berputar-putar di ruang itu. Aku mencari mama. Aku bingung. Aku tanya kakakku. Dia hanya diam memeluk diriku. Aku menangis. Aku menggugat. Aku berteriak. Aku menyesal. Orang-orang berdatangan.
---000---
Kami kemudian meninggalkan RS PMI Bogor menuju RS di Jakarta. Anakku dan susternya harus menjalani observasi di sana, untuk mengetahui lebih lanjut apakah ada luka dalam dari kecelakaan itu. Kakakku tinggal di Bogor untuk mengurus jenazah mama.

Hari itu, senin 9 juni 2003, hatiku patah tiga. Satu untuk mama yang pergi tiba-tiba, dan jenazahnya yang tak pernah boleh kulihat. Satu untuk setiap ketidak hadiranku di sisi anakku saat ia membutuhkanku. Dan satu untuk hidup kami yang tak pernah sama lagi.
---000---

Untuk kakakku yang menanggung dan menghadapi sendiri apa yang terjadi pada jenazah mama, serta Oom Leo yang membantu menyelesaikan semuanya.
Untuk adik-adikku, temanku menangis, agar selalu ingat untuk mendoakan papa dan mama

Tuesday, September 26, 2006

Makan AW Fried Chicken di Banda Aceh

Makan AW Fried Chicken? Apa istimewanya? Mungkin itu pertanyaan yang terlintas di benak setiap teman yang membaca judul di atas. Apalagi tempat makannya di Banda Aceh, daerah yang terkenal dengan masakan berbumbu rempah eksotik seperti Mie Aceh, Gule Hiu, Kari Kambing, dan banyak makanan enak lainnya. Memang tidak ada yang istimewa, Fried chicken AW, salah satu makanan cepat saji import yang sudah memasuki Banda Aceh ini tidak berbeda dengan fried chicken yang sama di Jakarta. Namun bagi saya yang sehari-hari, di rumah, mengkonsumsi produk organic serta berangkat ke kantor berbekal nasi beras merah, pengalaman menikmati makanan tersebut menyisakan penyesalan yang setara dengan melakukan perselingkuhan! Sedikit berbuat nakal, atau flirting, dengan junk food eksotik seperti makanan-makanan lokal yang saya sebutkan di atas, masih bisa dimaafkan. Walaupun kemudian saya harus menebusnya dengan meminum jus sayur mentah bergelas-gelas di rumah.

Sayangnya, semalam saya tidak punya pilihan lain. Sebenarnya hampir semua rekan saya di Banda Aceh sudah mengingatkan bahwa pada jam buka puasa, sampai saat orang-orang selesai melaksanakan shalat tarawih, sebagian besar rumah makan, warung makan ataupun warung kopi, tutup. Setelah shalat tarawih, rumah2 makan itu akan buka sampai saat sahur keesokan paginya. Namun, dengan asumsi bahwa sebagian besar bukan berarti semua, saya masih menyimpan harapan bahwa saya akan menemukan tempat makan yang ‘layak’ untuk makan malam setelah berbuka. Sehingga saya mengabaikan ide untuk membeli bekal makanan sebelum berbuka dan menikmatinya di guest house.

Setelah puasa, yang diawali dengan hanya minum segelas jus dan menyantap buah potong untuk sahur, perut rasanya tidak bisa kompromi untuk menunggu lebih lama untuk diasup makanan. Maka malam itu, berkelilinglah saya ditemani dengan 3 orang teman, untuk mencari makan. Pertama kami menuju kafe apung di daerah Ulee Kareng. Di sana ada beberapa kafe dengan desain rumah panggung. Satu persatu kami telusuri, namun kafe-kafe di sepanjang jalan tersebut terlihat gelap, dan sepi. Kemudian kami menuju daerah Lamnyong. Menurut teman saya, di sana ada rumah makan Lamnyong yang menyediakan banyak pilihan. Hmm janji indah bagi yang baru berbuka puasa. Namun sayangnya, kami sampai di sana hanya untuk menemukan bahwa rumah makan itu tutup juga!

Kami mengamati di sepanjang jalan di Banda dan menemukan bahwa tidak satupun rumah2 makan yang terlihat buka dan siap melayani pelanggan. Saat perut berkecamuk itulah, saya mulai memikirkan dugaan yang dilontarkan salah satu teman kami, bahwa rumah makan yang pasti buka adalah KFC dan AW. Okelah kalau memang hanya dua rumah makan itu yang buka, apa boleh buat, demikian saya katakan kepada teman-teman. Jadi meluncurlah mobil kami, dengan tujuan yang lebih fokus yaitu menemukan KFC atau AW. Kami melewati jalan Simpang Lima, di sana ada restaurant KFC. Tapi kok gelap? Kemudian kami melewati Simpang Mesra, dan menemukan restaurant KFC lain yang juga tutup.

Kemudian supir kami mengarahkan mobil menuju Peunayong. Ada satu KFC lagi di sana, yang ternyata tutup juga. Wah gawat, saya membatin. Akhirnya setelah berputar-putar, dengan perut semakin lapar, dan harapan menemukan makanan semakin tipis, tampak di depan kami sebuah rumah makan dengan logo AW yang tampak terang dan cukup ramai dikunjungi tamu. Akhirnya. Berhentilah kami di sana. Tanpa basa basi, terjadilah, apa yang harus terjadi. Tiga potong ayam goreng AW setengah hangus, yang berkadar lemak tinggi, berkadar garam tinggi, dan entah mengandung apa lagi, masuk ke perut saya.
Malam itu, tergeletak di ranjang saya di Guest House, saya terbenam dalam rasa bersalah.